Pernah ketagihan akan sesuatu? Entah itu makanan? Minuman? Bacaan? Datang ke suatu tempat? Permainan? Yang tentunya semua itu akan selalu membutuhkan konsekuensi untuk mendapatkannya. Baik berupa materi, waktu, tenaga atau apapun. Ada kasus yang unik.
Misalnya begini, ada seorang pria yang memiliki ketertarikan mendekati wanita yang sudah memiliki pasangan dan kebanyakan akan menikah. Ia tidak berani mengharapkan suatu hubungan yang sampai pada jenjang pernikahan dari pendekatannya itu. Ia mendekati seorang wanita, membuatnya dari tidak peduli sampai jatuh hati kepadanya, walaupun pada akhirnya wanita itu akan tersadar lalu kembali kepada calon suaminya. Ia akan merasa kehilangan-kesedihan-kehancuran yang melanda hatinya karena ditinggalkan si wanita. Yang menjadi pertanyaan, perbuatan ini dilakukannya secara berulang kali. Teman-temannya selalu memperingatkan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan jika tetap meneruskan niatnya itu. Larangan dari komunitas, pandangan miring orang lain, kemarahan si lelaki yang menjadi calon suami si wanita, dan tentunya kehilangan si wanita di akhir petualangannya. Ia tidak pernah bersungguh-sungguh menginginkan wanita itu. Ia hanya menikmati saat-saat ketergantungan wanita itu padanya. Ia menikmati rasa cemburu yang membakar hatinya disaat
si wanita bercerita mengenai indahnya hubungannya. Menikmati rasa possesif yang tidak akan terwujud dari setiap pertemuan. Dan ternyata dia lebih menikmati perasaan “hati yang luka” dari setiap akhir petualangannya. Ia tahu kalau yang ia perbuat itu salah dan akan sia-sia. Dan ia hanya menjadi seseorang yang ditinggalkan.
Apakah itu yang menjadi unsur addict nya? Coba bayangkan, sebuah lagu melankolis akan lebih terasa disaat kita sedang feel in blue. Saat merindukan , cemburu, penasaran akan hati seseorang . Novel dan kisah-kisah romansa akan lebih terhayati jika hati dan pikiran kita pernah mengalami seperti itu. Musik keras akan lebih terasa dapat melampiaskan frustasi akan situasi.
Apakah ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu seni menyakiti diri?
Surat Suara Tanpa Angka
11 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar