Bertemu dengannya, seperti sebongkah es yang ditunjukkan pada sinar matahari. Tujuh bulan hanyalah foto, suara, dan tulisannya saja yang aku rasakan, kini ada di depan mata. Dia sedang duduk di tangga depan kampus, baju ungu, jilbab ungu bergaris, tas ungu dan jeans biru. Ungu adalah warna yang paling dia suka. Disinari matahari pagi, mempesona, hati ini berbunga-bunga rasanya. Benar kata orang-orang, lelaki akan menjadi bodoh seketika jika terkena pesona wanita.
Pikiranku kosong, lidahku kelu, raut mukaku kaku, darah yang naik ke muka seakan tidak mau turun lagi. Tiba-tiba aku merasa gerah, dan aku merasa, betapa lusuhnya aku dengan baju hijau kebanggaan, celana kain, sepatu kets…aaah…bodohnya…seharusnya aku bisa lebih rapi lagi. Sudahlah..terlanjur….
Sepertinya dia mencari-cari diriku, menoleh kiri-kanan, sambil mengetuk-ngetukan jarinya di atas tas nya. Setelah ku sapa, senyumnya mengembang, matanya berbinar, dan pipinya bersemu merah. Oh Tuhan…indahnya.
Berjalan berdua dengannya, dunia serasa terhenti, pandangan selain dirinya tampak kabur. Ketika dia bertanya mengapa aku diam saja, ku jawab tetaplah berbicara, karena aku senang melihatnya. Lagi…, pipi yang merona.
Aku berani bertaruh, aku pasti lupa jalan mana saja yang kami lewati. Sungguh tak perduli, bahkan tidak ingin untuk peduli…yang aku inginkan pada saat itu hanyalah, selama mungkin memandanginya.
Bertamu dikosannya. Jalan berliku, menurun dari arah terminal Dago menuju arah lembah. Sapaan ramah dari arah kiri-kanan, bukti bahwa dia cukup dikenal di sini. Dia memang istimewa. Kamar sempit untuk ditempati dua orang, terletak diujung lorong adalah kamarnya. Lorong dengan dudukan sepanjang dinding, sempadan beton untuk tumpuan jika ingin menjemur pakaian, dan 2 buah kompor minyak di dekat pintu kamar mandi. Ah siapa yang peduli? Yang penting adalah, aku sedang bersamanya.
Bergandengan tangan dengannya, tidak akan kulupa. Aku malu dia pun malu, tapi aku senang, saat memandangi pipinya yang merona…Lagi…
Sepertinya dia mencari-cari diriku, menoleh kiri-kanan, sambil mengetuk-ngetukan jarinya di atas tas nya. Setelah ku sapa, senyumnya mengembang, matanya berbinar, dan pipinya bersemu merah. Oh Tuhan…indahnya.
Berjalan berdua dengannya, dunia serasa terhenti, pandangan selain dirinya tampak kabur. Ketika dia bertanya mengapa aku diam saja, ku jawab tetaplah berbicara, karena aku senang melihatnya. Lagi…, pipi yang merona.
Aku berani bertaruh, aku pasti lupa jalan mana saja yang kami lewati. Sungguh tak perduli, bahkan tidak ingin untuk peduli…yang aku inginkan pada saat itu hanyalah, selama mungkin memandanginya.
Bertamu dikosannya. Jalan berliku, menurun dari arah terminal Dago menuju arah lembah. Sapaan ramah dari arah kiri-kanan, bukti bahwa dia cukup dikenal di sini. Dia memang istimewa. Kamar sempit untuk ditempati dua orang, terletak diujung lorong adalah kamarnya. Lorong dengan dudukan sepanjang dinding, sempadan beton untuk tumpuan jika ingin menjemur pakaian, dan 2 buah kompor minyak di dekat pintu kamar mandi. Ah siapa yang peduli? Yang penting adalah, aku sedang bersamanya.
Bergandengan tangan dengannya, tidak akan kulupa. Aku malu dia pun malu, tapi aku senang, saat memandangi pipinya yang merona…Lagi…
Menyeberangi jalan, di Kampus Pusat, di perbelanjaan, di sepanjang trotoar, di dalam angkot….Rute Dago – Kalapa , dengan lutut tertekuk, perut gendutku tertekan, sungguh tidak terasa. Hanya karena aku menikmati saat memandanginya. Sekali lagi dia bertanya, mengapa aku sedikit bicara. Sekali lagi aku menjawab, hanya ingin memandanginya saat dia berbicara. Rona merah pipinya dengan senyum tersipu…..lagi.
Berpayungan dengannya, seperti membaca cerita bergambar klasik. Jalan itu hanya kami berdua. Sesekali orang bersepeda motor lewat dan tersenyum pada kami. Hujan turun, anginnya lembut, cukup basah, daun-daun berguguran, payung ungunya terbuka. Dia meminta jangan menolak jika kita berpayung bersama dan dia yang memegang gagang payungnya. Payung ungu itu kecil, hanya cukup buat satu orang saja. Lengannya pasti bisa merasakan jantungku yang berdetak kencang. Separuh kemejaku basah. celanaku basah, sepatuku apalagi. Siapa yang peduli? Aku sedang bersamanya, menatap mata bulatnya, menggenggam satu tangannya, menghirup wangi alami dirinya, menikmati detik-detik yang berjalan lebih lambat dari tetesan air hujan yang mengalir di sebelah bahuku.
Dia bilang, “Jangan lupakan hari ini”.
Berpisah dengannya di tengah hujan sore hari, di depan mushola terminal Dago, dengan kemeja setengah basah dan celana yang basah. Mungkin hari ini memang terlambat untuk kami. Pertunangan dirinya menyadarkan kami. Aku mundur, dan dia pun harus melambaikan tangannya padaku. Kami memang tidak nyata, tapi perasaan kami nyata.
Berpayungan dengannya, seperti membaca cerita bergambar klasik. Jalan itu hanya kami berdua. Sesekali orang bersepeda motor lewat dan tersenyum pada kami. Hujan turun, anginnya lembut, cukup basah, daun-daun berguguran, payung ungunya terbuka. Dia meminta jangan menolak jika kita berpayung bersama dan dia yang memegang gagang payungnya. Payung ungu itu kecil, hanya cukup buat satu orang saja. Lengannya pasti bisa merasakan jantungku yang berdetak kencang. Separuh kemejaku basah. celanaku basah, sepatuku apalagi. Siapa yang peduli? Aku sedang bersamanya, menatap mata bulatnya, menggenggam satu tangannya, menghirup wangi alami dirinya, menikmati detik-detik yang berjalan lebih lambat dari tetesan air hujan yang mengalir di sebelah bahuku.
Dia bilang, “Jangan lupakan hari ini”.
Berpisah dengannya di tengah hujan sore hari, di depan mushola terminal Dago, dengan kemeja setengah basah dan celana yang basah. Mungkin hari ini memang terlambat untuk kami. Pertunangan dirinya menyadarkan kami. Aku mundur, dan dia pun harus melambaikan tangannya padaku. Kami memang tidak nyata, tapi perasaan kami nyata.
Jangan lupakan hari ini...... Dago Elos II, 30 Januari 2002

Tidak ada komentar:
Posting Komentar