Kamis, 08 Januari 2009

Nasty Man


Pekerjaanku yang terasa tidak menentu. Terkadang muncul rasa menyesal telah melamar posisi ini. Posisiku yang baru ini sudah tidak sebagus ide awal terbentuk. Di awal pembukaan lowongan, betapa besar tanggung jawab yang bisa diemban, dan betapa akan sangat berarti “suara” dan pemikiran. Secara eksistensi, posisi ini sangat menantang. Tugas utamanya adalah melakukan studi dan memberikan solusi secara teknis maupun komersial di seluruh departemen, agar dapat meningkatkan sales dan menurunkan “kehilangan” yang terjadi. Dalam arti lain, aku bakal mengevaluasi dan mengeluarkan solusi untuk pelerjaan orang lain. Aku pun mengambil kesempatan ini, dan lulus seleksi.
Dari puluhan pelamar internal, hanya 6 orang yang dipilih. Kami dibagi berdasarkan area pelayanan perusahaan kami. Kami terdiri dari berbagai macam latar belakang dan posisi. Yang berangkat dari posisi engineer, hanya aku dan 1 orang temanku. Di awal masa percobaan, pembantaian karakter terjadi berkali-kali, di depan forum maupun dirapat. Segala macam teori dan hasil kerja kami, dikritik habis-habisan oleh manajemen dan orang-orang yang kami evaluasi. Beberapa kritik adalah kritik yang membangun. Tapi kritik “tersinggung” pun tidak kalah jumlahnya. Ku akui, secara mental, kami menjadi lebih matang. Secara tak langsung, orang-orang menjadi lebih giat bekerja, khawatir hasil evaluasi kami akan membuka keburukan mereka. Bagi perusahaan ini adalah hal yang positif. Tapi bagi kami, tanpa sadar akan melemahkan posisi kami. Orang-orang yang kami evaluasi menjadi lebih aktif untuk mempresentasikan hasil mereka, merencanakan program dan usulan mereka.

Sampai akhirnya kepala direktorat kami pindah ke Dubai, kami benar-benar kehilangan arah. Secara politis orang-orang kalangan atas mengamankan posisinya. Orang-orang merasa tidak perlu mendengarkan kami. Secara teknis, kami terbuang dan kehilangan pengaruh. Dan sekarang kami tak ubahnya pengangguran yang dibayar. Apakah kondisi ini menyenangkan? Sama sekali tidak. Karena di trimester pertama, kami akan diminta hasilnya. Usulan, proposal, evaluasi, monitoring yang biasa kami kerjakan akan diminta oleh manajemen. Tapi apa yang bisa dikerjakan? Kami sudah tidak bisa mengerjakan apa yang biasa kami kerjakan dulu. Sejak pemindahan para kepala direktorat, menjadikan struktur perusahaan ini berubah, ketidak jelasan terjadi pada divisi tempat aku berada. Mungkin 4 teman yang lain tidak terlalu memusingkan kondisi ini. Karena mereka masuk melamar posisi ini sebagai manajer. Apapun nanti yang terjadi, apa yang mereka dapatkan sudah bisa menenangkan. Bukan seperti aku dan temanku, yang hanya naik menjadi supervisor. Aneh bukan? Pekerjaan sama, tanggung jawab sama, tapi apa yang kami dapatkan berbeda.

Yang aku rasakan sekarang bukan hanya kebingungan, tapi juga mulai dibumbui kecemburuan social…. Hiks hinanya diriku…. Kemanakah semangat bekerja dengan keikhlasan yang pernah aku miliki dulu? I’m already changed....being Nasty Man

Tidak ada komentar:

Posting Komentar