Kamis, 29 Januari 2009

Just Missing U Already...

Today...

7 years ago...

And now...

I'm just missin' u already...

Selasa, 20 Januari 2009

The Ear n Womanizer

Be careful girls, he’s a liar!
All his words are lies that comes easily through his dirty mouth.
Such a talented actor he is, he deceits you with his pretend-to-be-nice-and-sweet manners.
They are fakes! You never know what he did behind your back.
He watch you, catch you then dump you just like that without any words.
Sometimes after he took advantages of you, or there’s another fresh victim, or maybe he simply got bored.
No goodbyes nor apologizes, or even a little thanks.
Yes, he is that kind of jerk you feel sorry to get to know.
He called himself adventurer, I consider he’s dangerous.
He is nothing but trouble, stay away from him.
Watch out! There won’t be peace anymore until he rest in pieces

(dikutip dari sebuah blog yang aku ikuti)

Sepertinya temanku yang satu ini begitu marah dengannya. Seorang lelaki, entah siapa. Dugaanku sih dia telah tertipu oleh penampilan dan sikap luar yang memikat dari seorang laki-laki. Seorang yang boleh dibilang sebagai Womanizer.

Yah, memang itulah yang karakternya. Dilihat dari istilahnya saja, fheew... betapa piawainya orang ini. Dia bisa mengerti apa yang diinginkan oleh para wanita. Dia bisa memasuki pikiran bawah sadar mereka, seakan memberikan sebuah jaminan bagi si wanita ia akan dipenuhi seluruh hasratnya baik jiwa dan raga. Hanya dengan kata-kata….Hanya dengan kata-kata…. Melalui telinga…telinga…telinga…

Makanya teman, khususnya para wanita, jagalah telingamu. Pilihlah hal-hal yang diperbolehkan masuk. Orang sering bilang kalau kelemahan wanita itu ada di telinga. Dibisiki, dibuai dengan kata-kata, dipuji setinggi langit, semua koordinasi antara pikiran dan badan bisa langsung kacau. Stimulan yang diberikan pada alat indra yang lain tidak sebesar pengaruhnya jika dibandingkan dengan stimulasi telinga. Dari benci menjadi cinta, dari marah menjadi ramah, rasa rindu pun bisa terbayar, semua hanya dari hasil stimulasi telinga….

Senin, 19 Januari 2009

Gigi M3 Bukoversi Impasi Sebagian


Geraham bungsuku di rahang kiri bawah. memang nakal. Ia melanggar tata-tertib cara tumbuh gigi yang baik dan benar. Seharusnya ia tumbuh secara vertical terhadap gusi. Tapi apa yang sudah ia lakukan? Dengan seenaknya ia tumbuh secara horizontal di gusi kesayanganku. Tahukah ia akibat dari perbuatannya itu? Terikoronitis!!! Sakit tauk!!!
Kepalanya dipaksakan menyeruduk kakaknya yang berumur 20 tahun lebih tua. Bayangkan, dengan selisih usia yang sejauh itu saja dia berani bertingkah laku kurang ajar.
Si kakak sangat mematuhi tata tertib cara tumbuh gigi yang baik dan benar. Ia bertahan memegang prinsipnya untuk tumbuh vertical. Tapi apalah daya. Tenaga tua tetap tidak kuasa mempertahankan eksistensinya melawan tenaga dari yang lebih muda dan bersemangat. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaganya, si Kakak pun akhirnya tergeser keluar barisan. Tumbuh miring ke arah dinding mulut. Sariawan berkepanjangan pun tak terelakkan. Itu hanyalah awal dari penderitaanku. Ruang yang terbentuk antara kepala si Bungsun dengan badan si Kakak menjadi tempat bersemayam favorit para sisa-sisa makanan. Sekumpulan nutrisi sisa ini membentuk perangai buruk yang akhirnya menjadi parasit di rongga mulutku; menggerogoti keutuhan gigi; menimbulkan bau tidak sedap yang identik dengan aroma seekor naga.
Usaha dorong-mendorong antar saudara itu menjadi tren di habitat gigi. Rukun Gigi yang lain yaitu: Rukun Gigi (RG) Rahang Kanan Bawah, RG Rahang Kiri Atas. Dan RG Rahang Kanan Atas; menjadi ikut-ikutan. Para geraham bungsu berulah yang sama. Mereka sepaham untuk menyerudukkan kepala mereka ke kakak-kakaknya. Aku pun menjadi menderita 4 kali lipat. Baik itu rasa sakit maupun aroma mengganggu yang ada. Persinggungan gigi-gigi itu menggoda syaraf-syarafku untuk menjadikan otakku kram, otot leher tegang, hari-hariku muram dan hanya dipenuhi kesuntukkan. Kemampuan konsentrasiku menurun. Aku pun mendekati gejala stress. Lambungpun ikut-ikutan memproduksi gas-gas tak perlu yang menambah kadar mematikan dari aroma mulutku… Oh betapa nestapanya nasibku ini.
Hasil MCU menganjurkan aku untuk menertibkan perilaku mereka. Dengan sebuah operasi Cabut Gigi, diharapkan bisa memaksa mereka keluar dari Rukun Gigi dan pengaruh buruk yang mereka akibatkan pun juga dapat ditanggulangi. Aku berharap bahwa aku berani untuk mengambil keputusan itu. Tapi apalah daya. Aku tetap saja tidak berani melakukannya. Aku takut akan hal ini; jarum suntik, pisau bedah, tang pencabut, ooh…tidak. Mungkin aku harus bersabar untuk beberapa waktu. Walaupun harus membayar dengan kesabaran-ketabahan menghadapi ulah para gigi-gigi ingusan kurang ajar ini.

Minggu, 18 Januari 2009

satisfy me

Are you really here or am I dreaming
I can’t tell dreams from truth
For it’s been so long since I have seen you
I can hardly remember your face anymore
When I get really lonely and the distance causes only silence
I think of you smiling with pride in your eyes a lover that sighs
If you want me satisfy me
If you want me satisfy me
Are you really sure that you believe me
When others say I lie
I wonder if you could ever despise me
When you know I really tried
To be a better one to satisfy you for you’re everything to me
And I'll do what you ask me
If you let me be free
If you want me satisfy me
If you want me satisfy me
If you want me satisfy me
If you want me satisfy me

-If You Want Me by Marketa Iglova-


When satisfy can be praised with a price…
that will be hard to satisfy and satisfied…
It breaking us down…!!!
Where will we learn?
When will we satisfied?
Where is our love?

Kamis, 08 Januari 2009

Nasty Man


Pekerjaanku yang terasa tidak menentu. Terkadang muncul rasa menyesal telah melamar posisi ini. Posisiku yang baru ini sudah tidak sebagus ide awal terbentuk. Di awal pembukaan lowongan, betapa besar tanggung jawab yang bisa diemban, dan betapa akan sangat berarti “suara” dan pemikiran. Secara eksistensi, posisi ini sangat menantang. Tugas utamanya adalah melakukan studi dan memberikan solusi secara teknis maupun komersial di seluruh departemen, agar dapat meningkatkan sales dan menurunkan “kehilangan” yang terjadi. Dalam arti lain, aku bakal mengevaluasi dan mengeluarkan solusi untuk pelerjaan orang lain. Aku pun mengambil kesempatan ini, dan lulus seleksi.
Dari puluhan pelamar internal, hanya 6 orang yang dipilih. Kami dibagi berdasarkan area pelayanan perusahaan kami. Kami terdiri dari berbagai macam latar belakang dan posisi. Yang berangkat dari posisi engineer, hanya aku dan 1 orang temanku. Di awal masa percobaan, pembantaian karakter terjadi berkali-kali, di depan forum maupun dirapat. Segala macam teori dan hasil kerja kami, dikritik habis-habisan oleh manajemen dan orang-orang yang kami evaluasi. Beberapa kritik adalah kritik yang membangun. Tapi kritik “tersinggung” pun tidak kalah jumlahnya. Ku akui, secara mental, kami menjadi lebih matang. Secara tak langsung, orang-orang menjadi lebih giat bekerja, khawatir hasil evaluasi kami akan membuka keburukan mereka. Bagi perusahaan ini adalah hal yang positif. Tapi bagi kami, tanpa sadar akan melemahkan posisi kami. Orang-orang yang kami evaluasi menjadi lebih aktif untuk mempresentasikan hasil mereka, merencanakan program dan usulan mereka.

Sampai akhirnya kepala direktorat kami pindah ke Dubai, kami benar-benar kehilangan arah. Secara politis orang-orang kalangan atas mengamankan posisinya. Orang-orang merasa tidak perlu mendengarkan kami. Secara teknis, kami terbuang dan kehilangan pengaruh. Dan sekarang kami tak ubahnya pengangguran yang dibayar. Apakah kondisi ini menyenangkan? Sama sekali tidak. Karena di trimester pertama, kami akan diminta hasilnya. Usulan, proposal, evaluasi, monitoring yang biasa kami kerjakan akan diminta oleh manajemen. Tapi apa yang bisa dikerjakan? Kami sudah tidak bisa mengerjakan apa yang biasa kami kerjakan dulu. Sejak pemindahan para kepala direktorat, menjadikan struktur perusahaan ini berubah, ketidak jelasan terjadi pada divisi tempat aku berada. Mungkin 4 teman yang lain tidak terlalu memusingkan kondisi ini. Karena mereka masuk melamar posisi ini sebagai manajer. Apapun nanti yang terjadi, apa yang mereka dapatkan sudah bisa menenangkan. Bukan seperti aku dan temanku, yang hanya naik menjadi supervisor. Aneh bukan? Pekerjaan sama, tanggung jawab sama, tapi apa yang kami dapatkan berbeda.

Yang aku rasakan sekarang bukan hanya kebingungan, tapi juga mulai dibumbui kecemburuan social…. Hiks hinanya diriku…. Kemanakah semangat bekerja dengan keikhlasan yang pernah aku miliki dulu? I’m already changed....being Nasty Man

Selasa, 06 Januari 2009

Seni Menyakiti Diri?


Pernah ketagihan akan sesuatu? Entah itu makanan? Minuman? Bacaan? Datang ke suatu tempat? Permainan? Yang tentunya semua itu akan selalu membutuhkan konsekuensi untuk mendapatkannya. Baik berupa materi, waktu, tenaga atau apapun. Ada kasus yang unik.
Misalnya begini, ada seorang pria yang memiliki ketertarikan mendekati wanita yang sudah memiliki pasangan dan kebanyakan akan menikah. Ia tidak berani mengharapkan suatu hubungan yang sampai pada jenjang pernikahan dari pendekatannya itu. Ia mendekati seorang wanita, membuatnya dari tidak peduli sampai jatuh hati kepadanya, walaupun pada akhirnya wanita itu akan tersadar lalu kembali kepada calon suaminya. Ia akan merasa kehilangan-kesedihan-kehancuran yang melanda hatinya karena ditinggalkan si wanita. Yang menjadi pertanyaan, perbuatan ini dilakukannya secara berulang kali. Teman-temannya selalu memperingatkan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan jika tetap meneruskan niatnya itu. Larangan dari komunitas, pandangan miring orang lain, kemarahan si lelaki yang menjadi calon suami si wanita, dan tentunya kehilangan si wanita di akhir petualangannya. Ia tidak pernah bersungguh-sungguh menginginkan wanita itu. Ia hanya menikmati saat-saat ketergantungan wanita itu padanya. Ia menikmati rasa cemburu yang membakar hatinya disaat si wanita bercerita mengenai indahnya hubungannya. Menikmati rasa possesif yang tidak akan terwujud dari setiap pertemuan. Dan ternyata dia lebih menikmati perasaan “hati yang luka” dari setiap akhir petualangannya. Ia tahu kalau yang ia perbuat itu salah dan akan sia-sia. Dan ia hanya menjadi seseorang yang ditinggalkan.
Apakah itu yang menjadi unsur addict nya? Coba bayangkan, sebuah lagu melankolis akan lebih terasa disaat kita sedang feel in blue. Saat merindukan , cemburu, penasaran akan hati seseorang . Novel dan kisah-kisah romansa akan lebih terhayati jika hati dan pikiran kita pernah mengalami seperti itu. Musik keras akan lebih terasa dapat melampiaskan frustasi akan situasi.
Apakah ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu seni menyakiti diri?

Senin, 05 Januari 2009

SMS Panjang Darinya

Walau tidak pernah ada dirimu secara raga disampingku, tapi aku selalu merasa kamu itu ada… Hebat bener ya kamu!!! Ngalah-ngalahin cowokku yang berstatus pacar asli. Tetapi sayang, kamu itu beda banget…. Ga ada minta, ga nunjukkin nafsu, ga ada sakit, tulus banget….

Waktu SMP dulu, aku punya teman cowok. Entah kenapa, dekat dia yang ada Cuma seneng aja…pengen senyum terus rasanya. He is so nice. Aku inget dia naik sepeda yang ada warna ijonya. Agak sedih sih waktu dia punya sepeda, tidak bisa jalan baren lagi pas pulang sekolah. Sahabatku pernah bilang, kalo sebenarnya ni anak suka sama aku. Tapi kenapa dia tidak pernah bilang ya? Kupikir cinta ga musti memiliki. Karena kalau dimiliki, kita akan egois dan bisa menyakiti. Hal itu yang aku pelajari dari dia.

Saat aku sedang diiesengi oleh anak-anak lain, kamu tahu siapa yang ku inget dan berharap bisa nolongin aku? Kamu!. Mereka yang lain hanya diam saja. Aku merasa dilecehkan banget. Aku dicomblangin, diculik, dibawa jalan paksa, difoto sembunyi-sembunyi. Aku benci mereka.

Saat kita kelas 2 SMA, aku pernah suka dengan anak kelas 3. Selalu aku ikuti saat pulang sekolah. Aku tonton waktu latihan atau tanding tanding basket. Aku bener-bener ngelakuin apa saja untuk menarik perhatian dia. Ternyata berhasil. Dia mulai telpon . Berani ajak ngomong, jalan pulang bareng. Aku bela-belain numpang di rumah eyang biar lebih deket ama rumah dia. Ternyata aku bosen. Apalagi waktu dia bilang suka ke aku. Aku tolak. Ga tau kenapa. Ternyata sorenya dia jadian dengan tukang comblang kami. Sakit banget…banyak tangis. Rasanya semua orang di sekolah ngerti kalau aku dikhianati. Tapi sebenarnya aku juga merasa tidak dikhianati, toh biasa, kalo mak comblang yang dapat. Kamu waktu itu ada dimana?

Love is not how to find someone perfect for you, but how to find someone that can make you perfect.

Dua bulan lagi kamu akan menikah. Masi punya keinginan yang belum terwujud ngga? Ada kencan terakhir ga? Jika ada, siapakah dia? Pertanyaan nakal dan iseng ya? Ngga usah dijawab. Aku ga ngerti… setiap aku ada permasalahan yang bikin down atau blue, aku cuma pengen cerita ke kamu. Karena kamu selalu bisa bikin aku senyum lagi, begitu juga kalau aku lagi seneng…entah…


Dia selalu ada buat meluk aku. Selalu nyediain bahu buat aku bersandar. Menyediakan dadanya buat aku nangis, siap menggandeng kalo lagi jalan bareng. Sampai aku bisa berkata, “I love the way you love me” dan dia berkata “ I love you just the way you are”. Kamu tau kan siapa?


Tapi 2 bulan lagi, aku tau semuanya akan berubah. Jujur, sebenarnya aku ingin menjadi teman calon istrimu. Bukan dengan maksud merebutmu darinya. Just wanna be her friend. Masa aku ga bisa ketemu kamu lagi dikemudian hari? Inget saat kamu mau pindah ke Jakarta? Rasanya kamu ninggalin aku selangkah lebih jauh.
Sudah saatnya aku mencari pengganti kamu buat menemani aku. Ada yang bisa gak ya? Anyway, tadi malam aku mimpi kamu, kirim sesuatu buat aku. Entah apa isinya, sebuah kotak dengan kertas merah di dalamnya. Tidak tahu tulisannya apa.


Aku selalu mikir, kapan aku bisa ketemu lagi? Di saat kamu melangkah semakin jauh lagi? Dan aku mulai sadar, aku ga akan bisa ketemu dan curhat lagi. Aku egois? Kamu egois? Calon istrimu egois? Tapi aku selalu bahagia dengan keputusan kamu, karena aku sayang sama kamu. That’s all.






My Color Blind


Hal yang tidak akan pernah aku bisa masuki adalah dunia kedokteran. Kenapa? Karena aku adalah seorang yang mempunyai keturunan buta warna. Mana boleh seorang dokter memiliki kekurangan ini? Dan lagi, aku tidak suka bau obat, tidak tahan liat jarum. Yang aku suka hanyalah hubungan sebab-akibat dari setiap langkah yang mereka lakukan.

Sel-sel kerucut mataku tidak mampu menerjmahkan warna yang benar ke otakku. Sifat ini menurut informasi adalah genetis. Mungkin ayahku pembawa gen buta warna dan ibuku juga. Hasilnya aku dan saudara laki-laki ku buta warna. Hanya saudara perempuanku yang tidak mengalaminya. Tapi kemungkinan dia menjadi pembawa gen seperti ibuku.
Buta warna sendiri dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu trikromasi, dikromasi dan monokromasi. Buta warna yang aku miliki kemungkinan besar adalah jenis trikomasi, yang artinya adalah perubahan sensitifitas warna dari satu jenis atau lebih sel kerucut. Ada tiga macam trikomasi yaitu:
-Protanomali yang merupakan kelemahan warna merah,
-Deuteromali yaitu kelemahan warna hijau,
-Tritanomali (low blue) yaitu kelemahan warna biru.
Hal ini mengingatkan aku sewaktu kuliah dulu, saat lagi senang-senangnya main game Counter Strike. Aku hanya nyaman jika bermain sebagai tim Terorist. Karena tim lawan yang Counter Terorist selalu berpakain gelap, sehingga terlihat kontras dengan latar dibelakangnya. Jika aku bermain sebagai CT, aku kesulitan melihat pemain lawan berada dimana. Jadi hanya mengandalakan arah tembakan dan kepala atau sepatu yang bergerak. Sedihnya….
Desain-desainku pun begitu. Kebanyakan suram ,atau cerah banget. Jarang bermain di nuansa pastel atau pantone. Bagi yang sudah tahu sih maklum. Bagi yang baru tahu, bisa kaget dan ketawa hehehhehehe…
Makanya, kalaupun tidak bisa menjadi dokter, setidaknya punya teman dokter, atau belajar sendiri saja hal-hal yang menarik dari dunia kedokteran hehehehe.. baca ini itu, mencoba mengerti ini itu. Setidaknya mencoba memahami cara mereka bekerja. Tapi kenyataannya, sampai sekarang aku tidak suka berinteraksi secara langsung dengan dokter. Seremmmm…..


Minggu, 04 Januari 2009

Dago Elos II, 30 januari 2002


Bertemu dengannya, seperti sebongkah es yang ditunjukkan pada sinar matahari. Tujuh bulan hanyalah foto, suara, dan tulisannya saja yang aku rasakan, kini ada di depan mata. Dia sedang duduk di tangga depan kampus, baju ungu, jilbab ungu bergaris, tas ungu dan jeans biru. Ungu adalah warna yang paling dia suka. Disinari matahari pagi, mempesona, hati ini berbunga-bunga rasanya. Benar kata orang-orang, lelaki akan menjadi bodoh seketika jika terkena pesona wanita.

Pikiranku kosong, lidahku kelu, raut mukaku kaku, darah yang naik ke muka seakan tidak mau turun lagi. Tiba-tiba aku merasa gerah, dan aku merasa, betapa lusuhnya aku dengan baju hijau kebanggaan, celana kain, sepatu kets…aaah…bodohnya…seharusnya aku bisa lebih rapi lagi. Sudahlah..terlanjur….
Sepertinya dia mencari-cari diriku, menoleh kiri-kanan, sambil mengetuk-ngetukan jarinya di atas tas nya. Setelah ku sapa, senyumnya mengembang, matanya berbinar, dan pipinya bersemu merah. Oh Tuhan…indahnya.

Berjalan berdua dengannya, dunia serasa terhenti, pandangan selain dirinya tampak kabur. Ketika dia bertanya mengapa aku diam saja, ku jawab tetaplah berbicara, karena aku senang melihatnya. Lagi…, pipi yang merona.
Aku berani bertaruh, aku pasti lupa jalan mana saja yang kami lewati. Sungguh tak perduli, bahkan tidak ingin untuk peduli…yang aku inginkan pada saat itu hanyalah, selama mungkin memandanginya.

Bertamu dikosannya. Jalan berliku, menurun dari arah terminal Dago menuju arah lembah. Sapaan ramah dari arah kiri-kanan, bukti bahwa dia cukup dikenal di sini. Dia memang istimewa. Kamar sempit untuk ditempati dua orang, terletak diujung lorong adalah kamarnya. Lorong dengan dudukan sepanjang dinding, sempadan beton untuk tumpuan jika ingin menjemur pakaian, dan 2 buah kompor minyak di dekat pintu kamar mandi. Ah siapa yang peduli? Yang penting adalah, aku sedang bersamanya.

Bergandengan tangan dengannya, tidak akan kulupa. Aku malu dia pun malu, tapi aku senang, saat memandangi pipinya yang merona…Lagi…

Menyeberangi jalan, di Kampus Pusat, di perbelanjaan, di sepanjang trotoar, di dalam angkot….Rute Dago – Kalapa , dengan lutut tertekuk, perut gendutku tertekan, sungguh tidak terasa. Hanya karena aku menikmati saat memandanginya. Sekali lagi dia bertanya, mengapa aku sedikit bicara. Sekali lagi aku menjawab, hanya ingin memandanginya saat dia berbicara. Rona merah pipinya dengan senyum tersipu…..lagi.

Berpayungan dengannya, seperti membaca cerita bergambar klasik. Jalan itu hanya kami berdua. Sesekali orang bersepeda motor lewat dan tersenyum pada kami. Hujan turun, anginnya lembut, cukup basah, daun-daun berguguran, payung ungunya terbuka. Dia meminta jangan menolak jika kita berpayung bersama dan dia yang memegang gagang payungnya. Payung ungu itu kecil, hanya cukup buat satu orang saja. Lengannya pasti bisa merasakan jantungku yang berdetak kencang. Separuh kemejaku basah. celanaku basah, sepatuku apalagi. Siapa yang peduli? Aku sedang bersamanya, menatap mata bulatnya, menggenggam satu tangannya, menghirup wangi alami dirinya, menikmati detik-detik yang berjalan lebih lambat dari tetesan air hujan yang mengalir di sebelah bahuku.
Dia bilang, “Jangan lupakan hari ini”.

Berpisah dengannya di tengah hujan sore hari, di depan mushola terminal Dago, dengan kemeja setengah basah dan celana yang basah. Mungkin hari ini memang terlambat untuk kami. Pertunangan dirinya menyadarkan kami. Aku mundur, dan dia pun harus melambaikan tangannya padaku. Kami memang tidak nyata, tapi perasaan kami nyata.

Jangan lupakan hari ini...... Dago Elos II, 30 Januari 2002