Geraham bungsuku di rahang kiri bawah. memang nakal. Ia melanggar tata-tertib cara tumbuh gigi yang baik dan benar. Seharusnya ia tumbuh secara vertical terhadap gusi. Tapi apa yang sudah ia lakukan? Dengan seenaknya ia tumbuh secara horizontal di gusi kesayanganku. Tahukah ia akibat dari perbuatannya itu? Terikoronitis!!! Sakit tauk!!!
Kepalanya dipaksakan menyeruduk kakaknya yang berumur 20 tahun lebih tua. Bayangkan, dengan selisih usia yang sejauh itu saja dia berani bertingkah laku kurang ajar.
Si kakak sangat mematuhi tata tertib cara tumbuh gigi yang baik dan benar. Ia bertahan memegang prinsipnya untuk tumbuh vertical. Tapi apalah daya. Tenaga tua tetap tidak kuasa mempertahankan eksistensinya melawan tenaga dari yang lebih muda dan bersemangat. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaganya, si Kakak pun akhirnya tergeser keluar barisan. Tumbuh miring ke arah dinding mulut. Sariawan berkepanjangan pun tak terelakkan. Itu hanyalah awal dari penderitaanku. Ruang yang terbentuk antara kepala si Bungsun dengan badan si Kakak menjadi tempat bersemayam favorit para sisa-sisa makanan. Sekumpulan nutrisi sisa ini membentuk perangai buruk yang akhirnya menjadi parasit di rongga mulutku; menggerogoti keutuhan gigi; menimbulkan bau tidak sedap yang identik dengan aroma seekor naga.
Usaha dorong-mendorong antar saudara itu menjadi tren di habitat gigi. Rukun Gigi yang lain yaitu: Rukun Gigi (RG) Rahang Kanan Bawah, RG Rahang Kiri Atas. Dan RG Rahang Kanan Atas; menjadi ikut-ikutan. Para geraham bungsu berulah yang sama. Mereka sepaham untuk menyerudukkan kepala mereka ke kakak-kakaknya. Aku pun menjadi menderita 4 kali lipat. Baik itu rasa sakit maupun aroma mengganggu yang ada. Persinggungan gigi-gigi itu menggoda syaraf-syarafku untuk menjadikan otakku kram, otot leher tegang, hari-hariku muram dan hanya dipenuhi kesuntukkan. Kemampuan konsentrasiku menurun. Aku pun mendekati gejala stress. Lambungpun ikut-ikutan memproduksi gas-gas tak perlu yang menambah kadar mematikan dari aroma mulutku… Oh betapa nestapanya nasibku ini.
Hasil MCU menganjurkan aku untuk menertibkan perilaku mereka. Dengan sebuah operasi Cabut Gigi, diharapkan bisa memaksa mereka keluar dari Rukun Gigi dan pengaruh buruk yang mereka akibatkan pun juga dapat ditanggulangi. Aku berharap bahwa aku berani untuk mengambil keputusan itu. Tapi apalah daya. Aku tetap saja tidak berani melakukannya. Aku takut akan hal ini; jarum suntik, pisau bedah, tang pencabut, ooh…tidak. Mungkin aku harus bersabar untuk beberapa waktu. Walaupun harus membayar dengan kesabaran-ketabahan menghadapi ulah para gigi-gigi ingusan kurang ajar ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar